BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan zaman, pendidikan agama Islam pun mengalami perubahan drastis. Hal ini sungguh mengejutkan jika melihat betapa gencarnya dakwah para ulama Islam melalui berbagai media yang berbanding terbalik ketika memotret kenyataan kehidupan remaja di sekolah. Banyak siswa yang tingkah lakunya tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang telah diajarkan di sekolah. Semakin terpuruknya nilai Islam di kalangan remaja membuat masyarakat khawatir tentang keadaan remaja itu sendiri dan tidak mustahil keadaan Negara ini 10 tahun kedepan akan mengalami kemunduran yang luar biasa.
Gaya hidup hedonis yang ditampilkan di televisi menjadi trend anak muda sekarang menyumbangkan persoalan moralitas ditingkatan remaja. Kebanggan semu yang sebenarnya merupakan design globalisasi untuk menghancurkan pemuda. Banyak remaja terbius dengan gaya hidup metropolitan yang tujuannya juga menjadikan remaja-remaja sebagai objek pasar kaum kapitalis.
Idealnya, lingkungan sekolah adalah lingkungan yang aman untuk perkembangan positif remaja. Di sekolah, ada guru yang bertugas membimbing siswa yang membutuhkan. Selain itu keberadaan teman sebaya (sebagai teman belajar) juga menjadi motivator untuk berkompetisi dalam belajar . Fasilitas-fasilitas juga tersedia untuk mendukung prosesi belajar siswa. Tapi pada kenyataannya justru di sekolah muncul kenakalan remaja. Sekiranya ada yang salah dengan proses pembelajaran, atau jangan-jangan kesalahan itu terletak pada sistem belajar yang diterapkan. Beberapa beranggapan bahwasanya guru agama adalah penyebab dari permasalahan tersebut. Hal ini dikarenakan guru agama tidak berhasil membentuk mentalitas pemuda yang bermoral lewat pelajaran agama.
Usia remaja umumnya mengalami keguncangan jiwa, mencari-cari kebenaran dari perspektif mereka sendiri yaitu kebenaran yang bisa diterima oleh akal sehat. Setelah usia menginjak remaja, pola pikir akan berubah. Mereka akan mencoba berpikir rasional tentang apa saja termasuk agama.
Pada kenyataannya, selama ini pendidikan Islam lebih didominasi oleh sandaran-sandaran teks keagamaan (Islam), baik yang merujuk secara langsung kepada dua sumber utamanya, al-Quran dan As-Sunnah, ataupun mengikuti konsep-konsep bentukan para pemikir pendidikan Islam. Hal inilah yang kemudian menanamkan kesan seolah-olah pendidikan Islam bersifat ekslusif, “tertutup” dari intervensi aspek-aspek eksternal, terlebih jika berasal dari paham atau ajaran non Islam, sehingga membuat pelaksanaan nilai-nilai Islam dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah hanya menghasilkan teks-teks yang biasanya cukup dihafal oleh siswa.
Islam sebagai agama yang universal memberikan pedoman hidup bagi manusia menuju kehidupan yang bahagia, yang pencapaiaannya sangat tergantung pada pendidikan (pelaksanaan nilai-nilai Islam di sekolah). Karenanya, Islam dan pendidikan di sekolah mempunyai hubungan yang sangat erat. Hubungan itu bersifat organis-fungsional; pendidikan difungsikan sebagai alat untuk mencapai tujuan keIslaman, dan Islam menjadi kerangka dasar serta pondasi pengembangan pendidikan Islam. Islam memberikan landasan sistem nilai, yang dari sistem nilai tersebut harus dikembangkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran pendidikan Islam yang tentunya bisa menjadi pijakan dalam pelaksanaan niali-nilai Islam di sekolah.
Mengapa harus pendidikan agama? Jawabannya adalah karena keterkaitan yang erat antara agama dengan pembentukan watak dan wawasan seseorang dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Agama dan sikap keberagamaan seseorang dapat dijadikan tolok ukur dan avant grade (pintu gerbang) penilaian bagaimana pandangan pluralitas dapat ditegakkan. Agama yang diajarkan secara eksklusif akan melahirkan sense eklusifitas pemeluknya yang hanya menerima saudara-saudara seagama (in group feeling) dan menafikan agama lain. Sebaliknya agama yang diajarkan secara inklusif, toleran dan non-sektarian akan membentuk sikap keberagamaan pemeluknya yang mau menempatkan secara seimbang pemeluk agama lain.
Pendidikan Islam secara fungsional merupakan upaya manusia dalam merekayasa pembentukan al insân al kâmil melalui penciptaan situasi interaksi pendidikan yang kondusif. Dalam posisinya yang demikian, pendidikan Islam merupakan modal individu dan sosial untuk menyiapkan dan menciptakan bentuk masyarakat ideal di masa mendatang. Untuk itu pendidikan Islam hendaknya harus memiliki seperangkat isi yang akan ditransformasikan kepada peserta didik agar kepribadianya sesuai dengan idealitas Islam.
Dengan kata lain, bahwa pelaksanaan pendidikan Islam juga harus disesuaikan dengan yang tercantum dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab II pasal 3 :
“Bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Pendidikan Islam selama ini mengalami kemunduran dan tidak sesuai dengan tujuan awal membentuk al insân al kâmil harus dikembalikan seperti semula, yaitu pendidikan yang berintikan tauhid dengan tujuan membentuk manusia baik dan bertakwa kepada Allah dalam arti sebenarnya, membangun struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktivitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Pendidikan Islam (Islamic Education) yang berangkat dari dua sumber utamanya yaitu Al-Quran dan Hadits yang telah memberikan deskripsi yang ada dalam dunia pendidikan.
Al Qur’an dan sunnah Nabi adalah sumber dan dasar ajaran yang memberikan motivasi dan bimbingan bagi manusia dalam perilaku sosialnya. Pendidikan adalah upaya terprogram dari pendidik untuk membantu para anak didik berkembang pada tingkat normatif yang lebih baik. Bagi pendidikan Islam pelaksanaanya juga sesuai dengan norma-norma, yaitu ajaran-ajaran subtantif dari al-Qur’an dan sunnah Nabi. Kenyataannya masih seringkali dijumpai pembelajaran agama (khususnya agama Islam), dilakukan secara ekslusif, in-toleran dan cenderung sektarian, baik dalam lembaga pendidikan tradisional semacam madrasah dan pesantren ataupun bahkan di lembaga pendidikan modern seperti perguruan tinggi.
Para filosof pendidikan Islam sepakat bahwa pendidikan akhlak merupakan jiwa pendidikan Islam. Hal ini dapat ditarik relevansinya dengan tujuan Rasulullah diutus oleh Allah yang artinya: “Bahwasannya aku diutus Allah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak (budi pekerti)”. (H.R. Ahmad)
Akhlak mempunyai relevansi dengan moral. Baik akhlak maupun moral sama-sama mengkaji perbuatan manusia baik atau buruk, akan tetapi masing-masing memiliki tolak ukur yang berbeda. Akhlak berdasarkan ajaran agama yakni Al-Quran dan Hadis. Moral tolok ukurnya adalah norma yang hidup dalam masyarakat.
Islam sebagai agama yang syarat dengan nilai-nilai universal dan transcendental dan sebagai agama fitrah diyakini pemeluknya sebagai paradigma idiologi dalam rangka membangun peradaban alternatif pendidikan sebagai wahana sangat strategis dalam membangun alternatif perlu diformulasikan dengan pendekatan idiologi sebagai pengikat dan penggerak untuk aksi.
Berdasarkan hal inilah, penulis merasa tertarik untuk mengedepankan masalah dengan harapan, berangkat dari titik tolak Kependidikan Islam ini nantinya akan dapat diketahui beberapa langkah prefentif maupun solusi yang dapat menjadi acuan alternatif bagi kita semua dalam menghadapi anak didik yang sedang mengalami perkembangan masa remaja.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penanaman nilai-nilai Islam dalam proses belajar mengajar siswa kelas VIII MTS Subulul Ma’arif Krejengan Probolinggo tahun ajaran 2008-2009?
2. Bagaimana hasil dari penerapan nilai-nilai Islam dalam proses belajar mengajar siswa kelas VIII MTS Subulul Ma’arif Krejengan Probolinggo tahun ajaran 2008-2009?
C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas penelitian ini bertujuan diantaranya:
1. Untuk mengetahui gambaran dari penanaman nilai-nilai Islam pada proses pembelajaran siswa kelas VIII MTS Subulul Ma’arif Krejengan Probolinggo tahun ajaran 2008-2009.
2. Untuk mengetahui hasil nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran siswa kelas VIII MTS Subulul Ma’arif Krejengan Probolinggo tahun ajaran 2008-2009.
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Diharapkan dapat memberikan masukan dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan Islam dalam proses pembelajaran siswa kelas VIII MTS Subulul Ma’arif Krejengan Probolinggo tahun ajaran 2008-2009.
2. Diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam pada proses pembelajaran siswa kelas VIII MTS Subulul Ma’arif Krejengan Probolinggo tahun ajaran 2008-2009.
D. Kajian Pustaka
Mengkaji tentang penerapan nilai-nilai Pendidikan Islam di MTs adalah bukanlah suatu upaya tanpa landasan dan bukti yang jelas terhadap urgensi dari penelitian ini. Sebab beberapa hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam bentuk laporan penelitian, buku maupun dalam media cetak lainnya yang menyatakan bahwa internalisasi nilai-nilai Pendidikan Islam pada mata pelajaran umum masih sangat sedikit. Diantaranya Neti Farida (2000), dalam skripsinya yang berjudul “Studi Pelaksanaan Pendidikan Terpadu di Madrasah Aliyah NU Banat Kudus”. Skripsi ini membahas konsep pendidikan terpadu (umum dan agama) dan pelaksanaannya dalam mencetak siswa yang berjiwa IPTEK dan IMTAQ. Adapun pelaksanaannya mengkombinasikan keduanya (ilmu umum dan agama) yang kemudian dipadukan kesesuaiannya antara kajian ilmu umum dan teks-teks agama.
Didik Widayat (2003) dalam skripsinya yang berjudul “Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menurut Prof. DR. Ismail Raji Al-Faruqi dan Relevansinya Dengan Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam”. Skripsi ini menelaah sosok figur pencetus ide atau gagasan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan yaitu Prof. DR. Ismail Raji Al-Faruqi, kemudian bagaimana konsep Islamisasi ilmu pengetahuan menurut beliau serta bagaimana relevansinya dengan perkembangan pemikiran pendidikan Islam (tinjauan pada kurikulum pendidikan Islam). Penelitian di atas berbeda dengan penelitian penulis yang berjudul “Penanaman Nilai-nilai Islam Pada Proses Pembelajaran Siswa Kelas VIII MTS Subulul Ma’arif Krejengan Probolinggo Tahun Ajaran 2007/2008, karena penulis memfokuskan pembahasan pada metode yang digunakan oleh guru dalam menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam setiap proses pembelajaran di sekolah. Skripsi ini tidak berpretensi untuk merinci sistem pendidikan Islam. Pendidikan Islam terlalu luas untuk dapat dituangkan dalam tulisan sesederhana ini.
Penelitian yang berjudul “Implementasi Nilai-nilai Islam dalam Dunia Pendidikan” oleh Ilham Jaya Abdurrauf, menjelaskan dasar falsafah pendidikan Islam beserta metodenya. Dua segi yang dianggap paling mendasar dalam pendidikan. Bila yang pertama merupakan landasan nilai, maka yang kedua adalah implementasi nilai-nilai tersebut. Berbeda dengan penelitian ini yang akan di tampilkan dalam skripsi ini yaitu penulis akan memaparkan hasil design penanaman nilai-nilai islam pada proses pembelajaran yang sebenarnya merupakan tujuan didirikannya MTs (dua materi yang berbeda, agama dan umum)
E. Metode Penelitian
Berpikir ilmiah ialah landasan atau kerangka berpikir penelitian ilmiah, dengan kata lain, penelitian ialah operasionalisasi dari berpikir ilmiah. Agar penulis pada penelitiannya mendapatkan hasil yang maksimal dan sesuai dengan tujuan penelitian, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research ) dan penelitian lapangan (wawancara). Pada penelitian pustaka dilakukan dengan cara menuliskan, mengedit, mengklarifikasikan, mereduksi dan menyajikan data yang diperoleh dari berbagai sumber yang tertulis. Sedangkan penelitian lapangan dilakukan dengan metode wawancara kepada civitas sekolah yang diteliti. Di sini akan akan ditampilkan transkrip wawancara yang menjadi bahan rujukan penulisan.
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
a. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena secara sistematis dan rasional. Penelitian deskriptif ini memerlukan dua kualifikasi yang memadai yaitu peneliti mempunyai sifat reseptif (selalu mencari bukan menguji) dan memiliki kekuatan integratif (dapat memadukan informasi dari responden menjadi satu kesatuan penafsiran).
b. Jenis Pendekatan
Pendekatan ysng digunakan ialah pendekatan fenomenologis yang hendak mendudukkan tinggi pada kemampuan manusia untuk berfikir reflektif dan lebih jauh lagi untuk menggunakan logika reflektif, disamping menggunakan logika induktif dan logika deduktif. Pendekatan ini juga menggangkat makna etika berteori dan berkonsep. Objek ilmunya tidak terbatas pada empirik saja melainkan mencakup fenomena yang tidak lain sebagai persepsi, pemikiran, kemampuan dan keyakinan subjek tentang sesuatu diluar subjek, ada yang transenden.
2. Sumber dan Jenis Data
Sumber data ialah subjek dari mana data dapat diperoleh. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber, adalah sebagai berikut :
a. Data Primer
Data primer ialah data yang secara langsung (data pokok) yang berkenaan dengan penelitian ini. Data pokok yang dimaksud adalah data yang diperoleh dari semua komponen sekolah yang terkait dengan penelitian, yaitu pelibatan semua warga sekolah pada umumnya dan siswa kelas VIII pada khususnya.
b. Data Sekunder
Data sekunder ini ialah data pendukung baik berasal dari buku maupun informasi lainnya yang relevan dengan penulisan ini. Menurut Azwar bahwa sumber data sekunder ialah sumber data yang didapat secara tidak langsung, biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arsip sekolah yang akan diteliti maupun buku-buku yang ditulis orang lain yang berkaitan dengan judul penulis teliti.
3. Teknik Pengumpulan Data
Kajian diatas, penulis menggunakan beberapa metode yang relevan untuk mendukung pengumpulan dan penganalisaan data yang dibutuhkan pada penulisan skripsi ini. Adapun metode yang penulis gunakan ialah sebagai berikut :
a. Metode Wawancara
Wawancara ialah komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang untuk mendapatkan informasi atau data dari seorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan tujuan tertentu. Data yang dimaksudkan ialah tentang masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan nilai-nilai Islam dam kegiatan belajar mengajar di sekolah sebagai objek penelitian. Data diperoleh dengan cara tanya jawab langsung secara lisan dengan sumber data/informasi. Sehingga penulis menggunakan teknik wawancara tak tersruktur, yaitu pedoman wawancara yang memuat garis-garis besar yang akan ditanyakan.
b. Metode Observasi
Observasi ialah pengamatan secara langsung, dengan serangkaian cara, yaitu pemilihan, pengubahan, pencatatan dan pengkodean. Pemilihan; peneliti memilih objek yang akan di observasi. Pengubahan; peneliti dapat mengganti suasana tanpa mengubah kewajarannya. Pencatatan; peneliti merekam kejadian dengan menggunakan catatan lapangan atau dengan metode lain, pengkodean; menyederhanakan catatan-catatan dengan melalui metode reduksi data yang diperoleh dari pengamatan tersebut. Peneliti menggunakan metode ini untuk mengetahui situasi umum sekolah yang akan diteliti.
c. Data Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan lain-lain, yang berhubungan dengan masalah penelitian.
d. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan metode analisis isi (content analyisis) yang bertujuan untuk mendapatkan inti dari data dan informasi kemudian di analisis dengan model berpikir deduktif, yakni berangkat dari teori umum untuk menemukan kesimpulan yang bersifat aplikatif.
F. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk memudahkan pemahaman dalam penulisan skripsi ini, penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari Empat Bab yaitu:
BAB I : Pendahuluan
Terdiri dari: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Telaah Pustaka, Metode Penelitian, dan Sistematika Pembahasan.
BAB II : Landasan Teori.
Bab ini akan dijelaskan secara teoritis tentang nilai-nilai islam yang seharusnya digunakan sebagai pijakan pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar disekolah.
BAB III : Pendidikan nilai-nilai Islam di Madrasah.
Bab ini akan memotret gambaran nilai-nilai Islam yang diajarkan di Madrasah Tsanawiyah.
BAB IV : Analisis data tentang Penanaman Nilai-nilai Islam dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar
Bab ini penulis juga akan memotret penanaman nilai-nilai Islam dalam proses belajar mengajar di sekolah. Bab ini menitik beratkan analisis data yang nantinya bisa mengetahui seberapa penting nilai-nilai Islam pada kegiatan belajar mengajar di MTs Muhammadiyah Kunduran.
BAB V : Penutup
Penutup dari keseluruhan pembahasan penelitian. Lebih lanjut lagi pada bab ini akan dikemukakan tentang simpulan dan saran-saran. Setelah penutup penulis juga menyajikan daftar pustaka sebagai referensi skripsi serta lampiran-lampiran untuk memperjelas proses penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
A.Azizy, Ahmad Qodri. Islam dan permasalah Sosial : Mencari Jalan Keluar. (LKIS Yogyakarta.2000)
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta Renika Cipta, 2002)
As, Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002)
Azwar, Saifuddin, Metode Penelitian, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1998)
Badgan, Robert dan Steven J Taylor, Kualitatif Dasar-Dasar Penelitian (Surabaya: Usaha Nasional, 1993)
Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang, PBM/PAI di sekolah (Aksistensi dan proses belajar mengajar Pendididikan Agama Islam), (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1998)
Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2003)
Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung; PT Remaja Rosdakarya, 2004)
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002)
Rahmat, Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi dilengkapi Contoh Analisis Statistik, (Bandung; PT Remaja Rosdakarya, 2000)
Rakhmawati, Dewi, Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran (Bab II. Malang: Masjidil ‘Ilm Bani Hasyim, 2007).
Sochip, Muhammad, ”Idiologi Pendidikan Islam (Studi Tentang Pemikiran Prof .Dr. H Achmadi)”, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2005
Sudjana, Nana, Tuntunan Karya Ilmiyah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi, (Bandung; Sinar Baru Algensindo, 2005)
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta Renika Cipta, 2002)
Ul-Haq, Fajar Riza, “Tafsir Multikultural: “Jihad Melawan Kejumudan Teks”, dalam www.islamlib.com, diakses tanggal 10 Pebruari 2007
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang “ Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya “, (Yogyakarta: Media Wacana Press), 2003
Tanpa Nama, Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2003 , tentang “Guru dan Dosen”, (Citra Umbara, Bandung, 2006).
http://www.fathurin-zen.com, Visi dan Misi Pendidikan Nasional / Diakses tgl 21 Januari 2009
http://femaleofhati.blogspot.com, Pendidikan Islam Modern, Ahmad Murtajib / diakses 21 februari 2009
http://aace.ncat.edu, Teori Taxonomi Blom, Acha / diakses pada tanggal 27 Februari 2009
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/tarbiyah/internalisasi-nilai-nilai-pendidikan-agama-islam-pada-pelajaran-biologi-di-sm/ diakses pada tgl 01 Mei 2009
http://www.wahdah.or.id, Internalisasi nilai-nilai islam dalam dunia pendidikan, Ilham Jaya Abdurrauf, diakses pada tgl 01 Mei 2009