Allah SWT berfirman “kalian semua adalah seorang pemimpin dan kalian akan di mintai pertanggungjawaban dalam menjalankan kepemimpinan tersebut”.
Guna menyikapi tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat ketat dan tajam, di beberapa negara telah berupaya untuk melakukan revitalisasi pendidikan. Revitalisasi ini termasuk pula dalam hal perubahan paradigma kepemimpinan pendidikan, terutama dalam hal pola hubungan atasan-bawahan, yang semula bersifat hierarkis-komando menuju ke arah kemitraan bersama. Pada hubungan atasan-bawahan yang bersifat hierarkis-komando, seringkali menempatkan bawahan sebagai objek tanpa daya. Pemaksaan kehendak dan pragmatis merupakan sikap dan perilaku yang kerap kali mewarnai kepemimpinan komando-birokratik-hierarkis, yang pada akhirnya hal ini berakibat fatal terhadap terbelenggunya sikap inovatif dan kreatif dari setiap bawahan. Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, mereka cenderung bersikap a priori dan bertindak hanya atas dasar perintah sang pemimpin semata. Dengan kondisi demikian, pada akhirnya akan sulit dicapai kinerja yang unggul.
Menyadari semua itu, maka perubahan kebijakan kepemimpinan pendidikan yang dapat memberdayakan pihak bawahan menjadi amat penting untuk dilakukan. Dalam hal ini, Larry Lashway (ERIC Digest, No. 96) mengetengahkan tentang Facilitative Leadership. yang pada intinya merupakan kepemimpinan yang menitikberatkan pada collaboration dan empowerment. Sementara itu, David Conley and Paul Goldman (1994) mendefinisikan facilitative leadership sebagai : “the behaviors that enhance the collective ability of a school to adapt, solve problems, and improve performance.” Kata kuncinya terletak pada collective. Artinya, keberhasilan pendidikan bukanlah merupakan hasil dan ditentukan oleh karya perseorangan, namun justru merupakan karya dari team work yang cerdas.
Pembangaunan Nasioanal di bidang Pendidikan adalah upaya demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang – undang Dasar 1945 , yang memungkinkan warganya mengembangkan diri sebagai manusia seutuhnya. Untuk mewujudkan manusia seutuhnya selain yang tersurat di dalam undang – undang harus ada yang terlihat dan dapat diraskan oleh semua pihak,baik siswa , guru , dan staf maupun masyarakat yaitu Kepemimpinan Kepala Sekolah.
Kepemimpinan Sekolah besar sekali pengaruhnya terhadap kamajuan sekolahnya karena merupakan ujung tombak bagi kemajuan sekolah. Pemimpin yang tidak dapat melaksanakan kepemimpinan dapat mengakibatkan kehancuran suatu lembaga apalagi lembaga ini adalah sekolah yang mencetak generasi penerus bangsa .
Pengembangan Kepemimpinan di Lingkungan Pemimpin
Dalam menjalankan kepemimpinannya, selain harus tahu dan paham tugasnya sebagai pemimpin, yang tak kalah penting dari itu semua seyogyanya kepala sekolah memahami dan mengatahui perannya. Adapun peran-peran kepala sekolah yang menjalankan peranannya sebagai manajer seperti yang diungkapkan oleh Wahjosumidjo (2002:90) adalah: (a)Peranan hubungan antar perseorangan; (b) Peranan informasional; (c) Sebagai pengambil keputusan.
Dari tiga peranan kepala sekolah sebagai manajer tersebut, dapat penulis uraikan sebagai berikut:
a. Peranan hubungan antar perseorangan
• Figurehead, figurehead berarti lambang dengan pengertian sebagai kepala sekolah sebagai lambang sekolah.
• Kepemimpinan (Leadership). Kepala sekolah adalah pemimpin untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah sehingga dapat melahirkan etos kerja dan peoduktivitas yang tinggi untuk mencapai tujuan.
• Penghubung (liasion). Kepala sekolah menjadi penghubung antara kepentingan kepala sekolah dengan kepentingan lingkungan di luar sekolah. Sedangkan secara internal kepala sekolah menjadi perantara antara guru, staf dan siswa.
b. Peranan informasional
• Sebagai monitor. Kepala sekolah selalu mengadakan pengamatan terhadap lingkungan karena kemungkinan adanya informasi-informasi yang berpengaruh terhadap sekolah.
• Sebagai disseminator. Kepala sekolah bertanggungjawab untuk menyebarluaskan dan memabagi-bagi informasi kepada para guru, staf, dan orang tua murid.
• Spokesman. Kepala sekolah menyabarkan informasi kepada lingkungan di luar yang dianggap perlu.
c. Sebagai pengambil keputusan
• Enterpreneur. Kepala sekolah selalu berusaha memperbaiki penampilan sekolah melalui berbagai macam pemikiran program-program yang baru serta malakukan survey untuk mempelajari berbagai persoalan yang timbul di lingkungan sekolah.
• Orang yang memperhatikan gangguan (Disturbance handler). Kepala sekolah harus mampu mengantisipasi gangguan yang timbul dengan memperhatikan situasi dan ketepatan keputusan yang diambil.
• Orang yang menyediakan segala sumber (A Resource Allocater). Kepala sekolah bertanggungjawab untuk menentukan dan meneliti siapa yang akan memperoleh atau menerima sumber-sumber yang disediakan dan dibagikan.
• A negotiator roles. Kepala sekolah harus mampu untuk mengadakan pembicaraan dan musyawarah dengan pihak luar dalam memnuhi kebutuhan sekolah.
Akan tetapi, disamping tuga-tugas pokok tersebut diatas, kepala sekolah juga harus mampu menaikkan kemampuan bawahannya. Yang dimaksud dengan menaikkan kemampuan bawahan di sini bikan hanya sebatas kemampuan dalam melaksanakan tugas bawahannya, akan tetapi menaikkan kemampuan memimpin dari bawahannya. Karena menurut Iyeng Wiraputra, 1976, semua orang yang ada di lingkungan organisasi mempunyai potensi untuk memimpin dan memperlihatkan sikap kepemimpinan.
Dalam sebuah organisasi, pengembangan kualitas lingkungan sangatlah diperlukan karena dengan semakin baiknya kualitas anggota, maka semakin baik pulalah kinerja serta pencapaian organisasi tersebut. Selain itu, pengembangan kualitas lingkungan organisasi juga dapat menumbuh kembangkan konsolidator dan manajer baru yang memberikan wajah segar terhadap perjalanan roda organisasi.
Organisasi yang baik adalah organisasi yangterus berkembang maju dan menaikkan tingkat orang yang ada di dalamnya. Keberhasilan sebuah organisasi dapat diukur dari prestasi yang sudah dicapai sesuai dengan target yang telah dirumuskan sebelumnya. Jika target pengembangan organisasi tersebut adalah memperbanyak anggota, maka organisasi tersebut bias dikatakan berhasil jika telah berhasil menambah jumlah anggotanya. Dan jika demikian, maka organisasi tersebut akan tubuh menjadi semakin besar, dan semakin banyak pulalah orang yang harus dipimpin. Jika orang yang harus dipimpin semakin banyak, maka semakin banyak pulalah pemimpin yang dibutuhkan organisasi tersebut.
Menurut C. Maxwell, 1997, keberhasilan seorang pemimpin dapat diukur dengan penggunaan maksimum potensi serta kemampuan orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya.
Proses pengembangan kepemimpinan bagi bawahan bukanlah sebuah proses yang mudah. Selain membutuhkan strategi dalam pelaksanaannya, pengembangan kepemimpinan bagi bawahan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Proses pengembangan kepemimpinan di lingkungan organisasi dapat dilakukan dengan memberikan contoh atau teladan bagi bawahannya yang dapat ditunjukkan dengan sikap menghargai orang lain, menunjukkan bagaimana bentuk komitmen yang harus dibuktikan kepada orang lain, memperdulikan bawahan, serta menunjukkan semangat dalam mencapai target yang telah disepakati bersama.
Selain itu, proses pengembangan kepemimpinan hanya bisa dilakukan dengan menciptakan iklim organisasi yang kondusif bagi calon pemimpin. Seorang pemimpin harus aktif dalam segala hal terutama dalam memberikan motivasi kepada bawahan, serta, menstabilkan organisasi yang dipimpinnya.
Kesimpulan
Disadari atau tidak, sebuah organisasi tentu selalu mengalami dinamika yang berubah. Perkembangan organisasi sewaktu-waktu bisa naik dengan pesat, namun juga bisa terjun bebas dengan sangat cepat. Perkembangan tersebut sangat bergantung pada perkembangan masyarakat yang ada dalam organisasi tersebut. Karena itulah, dibutuhkan seorang pemimpin yang tidak hanya mampu dalam hal manajerial organisasi semata, tetapi harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan masyarakat yang ada dalam organisasi tersebut.
Dengan demikian, sebuah organisasi dapat bergerak dinamis dan mampu bertahan dengan baik di tengah tantangan dan halangan yang sedang dihadapi.