A. Defenisi Intelegensi
Berbicara mengenai intelegensi biasanya memang dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, kemampuan untuk belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak. Perkataan intelegensi dari kata latin “intelligere” yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah intelegensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang intelegensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli intelegensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Namun demikian pengertian intelegensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli.
Sulit untuk membuat suatu defenisi yang memuaskan mengenai intelegensi. Kita akan melihat beberapa batasan yang diberikan oleh para ahli lalu kita berusaha merangkum dan menguraikan ciri-cirinya.
Menurut panitia istilah Padagogik (1953) yang mengangkat pendapat Stern yang dimaksud intelegensi adalah “daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya”.
Menurut V. Hees, intelegensi ialah “sifat kecerdasan jiwa”.
K. Buhler, mengatakan bahwa intelegensi adalah “Perbuatan yang disertai dengan pemahaman atau pengertian”.
David Wechsler, seorang ahli di bidang ini memberikan definisi mengenai intelegensi mula-mula sebagai “kapasitas untuk mengerti lingkungan dan kemampuan akal-budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya”. Pada kesempatan lain ia mengatakan bahwa intelegensi adalah “kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan-lingkungannya secara efektif”.
Dari definisi-definisi yang disajikan di atas, kita menarik beberapa kesimpulan yang akan menjelaskan ciri-ciri intelegensi:
1. Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
2. Intelegensi tercermin dari tindakan yang terarah (lihat no. 1) pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul dari padanya.
Menurut arah dan hasilnya, intelegensi ada dua macam, yaitu:
1. Intelegensi praktis. Ialah intelegensi untuk dapat mengatasi suatu situasi yang sulit dalam sesuatu kerja, yang berlangsung secara cepat dan tepat.
2. Intelegensi teoritis. Ialah intelegensi untuk dapat mendapatkan suatu fikiran penyelesaian soal atau masalah dengan cepat dan tepat.
B. Teori Intelegensi
Teori-teori tentang intelegensi memang cukup bervariasi, di bawah ini akan dipaparkan beberapa teori dari para ahli. Menurut Morgan, dkk. (1984) ada dua pendekatan yang pokok dalam memberikan definisi mengenai intelegensi itu, yaitu (1) pendekatan yang melihat faktor-faktor yang membentuk intelegensi itu, yang sering disebut sebagai pendekatan faktor atau teori faktor, dan (2) pendekatan yang melihat sifat proses intelektual itu sendiri, yang sering dipandang sebagai teori orientasi-proses (process-oriented theories).
1. Teori-teori Faktor
Di depan telah dipaparkan mengenai bermacam-macam pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan intelegensi itu dari beberapa orang ahli. Dari pendapat-pendapat tersebut di atas dapatlah dikemukakan bahwa dalam intelegensi itu didapati adanya faktor-faktor tertentu yang membentuk intelegensi, inilah makna dari teori faktor. Mengenai faktor-faktor apa yang terdapat dalam intelegensi, diantara para ahli belum terdapat pendapat yang bulat.
Seperti dikemukakan oleh Thorndike dengan teori multi faktornya, yaitu bahwa intelegensi tersusun dari beberapa faktor, dan faktor-faktor itu terdiri dari elemen-elemen, dan tiap-tiap elemen terdiri dari atom-atom, dan tiap-tiap atom merupakan hubungan stimulus-respons. Jadi suatu aktivitas yang menyangkut intelegensi adalah merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya.
Menurut Spearman intelegensi itu mengandung dua macam faktor, yaitu (1) general ability atau general factor (faktor G), dan (2) special ability atau special factor (faktor S). Karena itu teori Spearman dikenal sebagai teori dwi-faktor atau two-factor theory. Menurut Spearman general ability atau general factor terdapat pada semua individu tetapi berbeda satu dengan yang lain. General factor selalu didapati dalam setiap performance, sedangkan special ability adalah merupakan faktor yang bersifat khusus, yaitu mengenai bidang-bidang tertentu. Dengan demikian maka jumlah faktor S itu banyak, misalnya ada S1, S2, S3 dan seterusnya. Jadi kalau pada seseorang faktor S dalam bidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut. Dapat dikemukakan bahwa menurut Spearman tiap-tiap performance selalu ada faktor G dan faktor S, atau dapat dirumuskan: P = G + S.
Menurut Morgan, dkk. (1984) teori Spearman ini juga disebut teori faktor G (G-faktor theory).
Burt mempunyai pandangan yang berbeda, namun dekat dengan pandangan Sperman. Menurut Burt di samping general ability dan special ability masih terdapat faktor yang lain lagi, yaitu common ability atau common factor atau juga disebut group factor. Common factor adalah merupakan faktor sesuatu kelompok kemampuan tertentu, misalnya common factor dalam hal bahasa, common factor dalam hal matematika. Dengan demikian menurut pandangan Burt dalam intelegensi ada tiga macam faktor, yaitu (1) faktor G; (2) faktor S; dan (3) faktor C, dan faktor-faktor ini akan tampak dalam performance individu. Jadi performance individu dapat digambarkan sebagai berikut.
P= G + S + Cx Cx = misalnya common factor berhitung
P= G + S + Cy Cy = misalnya common factor bahasa
Dengan demikian maka akan didapati bermacam-macam special factor dan juga bermacam-macam common factor sesuai dengan kelompok-kelompok persoalan yang dihadapi, di samping faktor G.
Cattel (Morgan, dkk.,1984) berpendapat bahwa ada dua komponen dalam aktivitas intelektual, yaitu (1) fluid intelligence dan (2) crystallized intelligence. Fluid intelligence adalah berkaitan dengan kemampuan yang mencerminkan potensi intelegensi yang independent dari sisialisasi dan pendidikan, sedangkan crystallized intelligence lebih mencerminkan aspek budaya termasuk pendidikan formal, yang dipadu dengan pengetahuan dan ketrampilan (skill).
2. Teori Orientasi Proses (Process-Oriented Theories)
Teori ini mendasarkan atas orientasi bagaimana proses intelektual dalam pemecahan masalah. Para ahli lebih cenderung bicara mengenai proses kognitif (cognitive processes) daripada intelegensi, tetapi dengan maksud tentang hal yang sama (Morgan, dkk., 1984).
Teori proses informasi mengenai intelegensi (information-processing theories) mengemukakan bahwa intelegensi akan diukur dari fungsi-fungsi seperti proses sensorik, koding, ingatan, dan kemampuan mental yang lain termasuk belajar dan menimbulkan kembali (remembering).
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi
Untuk membahas faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi intelegensi, kita selalu ditarik ke dalam kontroversi Nature vs Nurture atau Bawaan vs Lingkungan. Kita tidak akan membahas kontroversi ini karena telah banyak hasil penelitian yang menyatakan bahwa kedua faktor tersebut memberikan sumbangan yang sangat berarti pada perkembangan inteligensi.
1. Pengaruh Faktor Bawaan
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkorelasi tinggi (± 0,50). Di antara kembar korelasi sangat tinggi (± 0,90), sedangkan di antara individu-individu yang tidak bersanak saudara korelasinya rendah sekali (± 0,20).
Bukti lain dari adanya pengaruh bawaan adalah hasil-hasil penelitian terhadap anak-anak yang diadopsi. IQ mereka ternyata masih biokorelasi tinggi dengan ayah/ibu yang sesungguhnya (bergerak antara + 0,40 sampai + 0,50). Sedang korelasi dengan orangtua angkatnya sangat rendah (+ 0,10 sampai + 0,20).
Selanjutnya, studi terhadap kembar yang diasuh secara terpisah juga menunjukkan bahwa IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa walau lingkungan berpengaruh terhadap taraf kecerdasan seseorang, tetapi banyak hal dalam kecerdasan itu yang tetap tak berpengaruh.
2. Pengaruh Faktor Lingkungan
Walau ada cirri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, tetapi ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidaklah dapat terlepas dari otak. Dengan kata lain perkembangan organik otak akan sangat mempengaruhi tingkat intelegensi seseorang. Di pihak lain, perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu, ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting.
Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa inteligensi bisa berkurang karena tidak adanya bentuk rangsangan tertentu dalam awal-awal kehidupan individu. Skeels dan Skodak menemukan dalam studi longitudinal mereka bahwa anak-anak yang dididik dalam lingkungan yang kaku, kurang perhatian, dan kurang dorongan lalu dipindahkan ke dalam lingkungan yang hangat, penuh perhatian, rasa percaya, dan dorongan, menunjukkan peningkatan skor yang cukup berarti pada tes kecerdasan.
Selain itu, individu-individu yang hidup bersama dalam keluarga mempunyai korelasi kecerdasan yagn lebih besar dibanding mereka yang dirawat secara terpisah. Zajonc dalam berbagai penelitian menemukan bahwa anak pertama biasanya memiliki taraf kecerdasan yang lebih tinggi dari adik-adiknya. Olehnya ini dijelaskan karena anak pertama untuk jangka waktu yang cukup lama hanya dikelilingi oleh orang-orang dewasa, suatu lingkungan yang memberinya keuntungan intelektual.
Melihat peranan bawaan dan lingkungan seperti di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa intelegensi dipengaruhi oleh:
a. Kualitas intelegensi orangtua serta kondisi anak pada saat pembentukan dalam kandungan (bawaan).
b. Gizi selama masa-masa pertumbuhan.
c. Rangsangan-rangsangan intelektual yang memberinya berbagai sumber daya pengalaman (experiential resources) seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain, khususnya pada masa-masa peka.
3. Stabilitas Intelegensi dan IQ
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa intelegensi bukanlah IQ. Seperti dijelaskan di depan, intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedangkan IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi tertentu (yang notabene, hanya mengukur sebagian kecil dari intelegensi).
Bila kita membahas stabilitas intelegensi, maka kita merujuk pada konsep yang umum tadi. Di depan sudah dijelaskan bahwa intelegensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan organic otak seseorang. Oleh karena itu, sesuai dengan tahap-tahap perkembangan otak, maka pada masa-masa pertumbuhan (± sampai usia 20 th) akan terjadi peningkatan intelegensi. Setelah itu ada suatu masa-masa stabil, kemudian, sejalan dengan kemunduran organis otak, akan terdapat kecenderungan menurun.
Berbeda dengan intelegensi, stabilitas IQ tidak diukur semata-mata berdasarkan perubahan-perubahan fisik (umur yang sebenarnya), tetapi sudah mengacu pada norma kelompok. Pendekatan seperi ini akan menghasilkan skor IQ yang relative stabil karena kelompok mengalami masa-masa pertumbuhan dan penurunan organis dalam periode yang hampir bersamaan.
D. Pengukuran Intelegensi
Ada bermacam-macam tes untuk mengukur intelegensi, diantaranya yaitu:
1. Tes Binet Simon yang diperbaiki Bobertag. Tes ini dipergunakan untuk menyelidiki intelegensi anak antara umur 3 s/d 15 tahun.
a. Untuk anak umur 3 tahun, pertanyaan-pertanyaan tidak bersangkutan dengan ilmu atau pelajaran sekolah.
Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya:
1) menyebut nama-nama keluarganya,
2) menyebut nama-nama barang, dalam gambar,
3) menyebutkan kembali bilangan dari 2 angka dan sebagainya.
b. Untuk anak yang sudah berumur 5 tahun ke atas, sudah diberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pelajarannya.
Dengan tes macam b, ini diketahui umur kecerdasaan seorang anak.
Misalnya, yang di tes anak umur 7 tahun; kepada anak ini mula-mula diberikan pertanyaan-pertanyaan untuk anak yang berumur 7 tahun. Kalau tidak semuanya benar, maka kepadanya diberikan pertanyaan-pertanyaan yang untuk anak yang baru berumur 6 tahun. Demikan seterusnya sampai semua pertanyaan dapat dijawab oleh anak yang berumur 7 tahun itu. Sesudah sesuatu daftar pertanyaan dapat dijawab olehnya dan benar semua, berturut-turut diberikan pertanyaan untuk anak yang berumur selanjutnya, dan terus demikian sehingga sampai kepada daftar pertanyaan yang olehnya satupun tidak ada yang benar. Dari hasilnya itu dapatlah kita menentukan umur kecerdasan anak itu.
2. Brightness test. Tes ini buatan Masselon. Yang disebut juga three words test. Yaitu kepada anak yang ditest, diberikan 3 kata, yang kemudian anak itu disuruhnya membuat kalimat-kalimat logis sebanyak-banyaknya dengan 3 kata tersebut.
3. Stenquist test. Anak disuruh mengamati sesuatu benda sebaik-baiknya. Sesudah itu, benda itu dirusak. Anak itu harus menyusun kembali, sehingga sisa-sisa benda itu berbentuk benda seperti semula.
4. Medaillon test. Anak disuruh menyelesaikan gambar yang baru sebagian atau belum selesai.
5. Educational (schollastik) mental test. Yaitu test yang biasanya diberikan di sekolah-sekolah. Misalnya: ulangan, dikte, ujian, dan sebagainya.