Puasa (Pengertian, Hikmah, serta macam dan dasar hukumnya), Fiqh

A. Pengertian dan Hikmah Puasa.
1. Pengertian Puasa.
Puasa secara bahasa berarti menahan dan dalam arti syara’, puasa berarti menahan makan dan minum, jima’ serta pekerjaan tercela dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

2. Hikmah Puasa.
Disyariatkannya puasa banyak mengandung hikmah, diantaranya:
ü Melaksanakan tugas dan syariat islam yang telah dibebankan kepadanya.
ü Mengendalikan sifat serakah dan rakus yang biasanya ada dalam tiap-tiap diri manusia.
ü Turut merasakan situasi yang dialami fakir-miskin yang setiap harinya mengalami kelaparan/kekurangan makanan, dan menumbuhkan rasa solidaritas dan kasih sayang serta saling membantu sesama.
ü Menanamkan sikap sabar dan hidup sederhana bagi seorang muslim.

B. Macam-Macam Dan Dasar Hukum Puasa.
1. Macam-Macam Puasa.
Menurut kedudukan hukumnya, puasa dapat dibagi menjadi dua:
· Puasa Fardlu/wajib: puasa fardlu dapat dibedakan menjadi tiga. 1. Puasa yang wajib karena diwajibkan oleh waktunya sendiri (Puasa Ramadlan). 2. Puasa yang menjadi wajib karena nadzar, dan 3. puasa kifarat.
· Puasa Sunnah: Puasa ini ada beberapa macam, 1. Puasa enam hari dibulan Syawal, 2. Puasa pada hari arafah (tanggal 09 dzulhijjah), 3. Puasa ‘Asyura (tanggal 09-10 Muharram), dan lain sebagainya.

2. Dasar Hukum Puasa.
Al-Baqarah: 183:
يا أيها اللذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على اللذين من قبلكم لعلكم تتّقون.
Hadits H.R. Bukhari dan Muslim:
قال النّبي ص.م: بني الأسلام غلى خمس شهادة ان لا اله الاّ الله و ان محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتأ الزكاة وحجّ البيت وصوم رمضان.

C. Hal-hal Yang Berkaitan Dengan Puasa Ramadlan.
1. Penetapan awal Bulan Ramadlan.
Penetapan awal bulan ramadlan atau penentuan tanggal 1 bulan ramadlan bisa ditentukan dengan dua hal. Yang pertama: melalui metode Ru’yah al-Hilal (melihat bulan). Yang kedua: bila dalam keadaan mendung (bulan tertutup awan), bisa juga menyempurnakan bulan sebelumnya (sya’ban) menjadi 30 hari. Hal ini berdasarkan hadits Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh H.R. Bukhari-Muslim sebagai berikut:
صوموا لرؤيته وأفطرو لرؤيته فإن غمّ عليكم فاكملوا عدّة شعبان ثلاثين يوما.

2. Niat dan Imsak diwaktu bulan Ramadlan.
عن حفصة قالت, قال رسول الله ص.م: من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له (رواه أحمد وأصحاب السنين وصححه إبن خزيمة).
Berdasarkan hadits diatas, niat puasa ramadlan dilakukan sebelum fajar. Abu hanifah berpendapat bahwasanya niat melaksanakan puasa ramadlan boleh dilakukan tengah malam atau kapan saja sebelum terbitnya fajar. Namun imam empat sepakat bahwasanya puasa menjadi tidak sah apabila tidak diniati.
Niat tersebut tidak disyaratkan harus berupa ucapan karena niat termasuk pekerjaan hati.
Imam Ahmad dan Abu Hanifah berpendapat bahwasanya tiap-tiap malam ramadlan memerlukan niat-niat tersendiri. Namun menurut Imam Malik, cukup berniat pada malam pertama bulan Ramadlan (sekali niat).
Mengenai imsak, telah dijelaskan dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi :
…….فالئن باشروهن وابتغوا ما كتب الله لكم. وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام الى الليل.
Yang artinya:
“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam”.

D. Orang Yang Wajib Berpuasa dan Yang Mendapatkan Keringanan.
Syarat-syarat bagi orang yang wajib melaksanakan puasa adalah: berakal, dewasa, sehat dan bermukim. Juga bagi seorang perempuan yang suci dari haidh dan nifas.
Puasa tidak diwajibkan bagi orang yang sedang hamil atau menyisui dan orang jompo (lanjut usia). Keadaan tersebut menjadi penghalang (‘illah) bagi mereka. Namun ada ketentuan lain yang telah ditetapkan bagi mereka yaitu: qadla’ (mengganti puasa yang ditinggalkannya), membayar fidyah (memberi makan orang miskin tiap hari satu mud-sekitar 5/6 ons-) tanpa qadla’.
1. Ketentuan membayar fidyah tanpa mengqadla’: berlaku bagi orang jompo baik laki-laki atau perempuan sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh ibn Abbas:
رخص للشيخ الكبير أن ُيفطر وُيطعم على كل يوم مسكينا ولا قضأ عليه (رواه الدار قطني والحاكم وصححه)
Ketentuan ini juga berlaku (menurut ibn Umar dan Ibn Abbas) bagi wanita hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan kesehatan dirinya. Dan anaknya berdasarkan hadits:
عن نافع أن ابن عمر سأل عن المرأة الحامل إذا خافت على ولدها فقال: تفطروا وتطعم مكان كل يوم مسكينا مدا من حنطة (رواه مالك والبيحاقي)
Namun menurut As-Syafi’y, jika wanita itu mengkhawatirkan akan anaknya, maka ia berbuka dan wajib mengqadla’ dan membayar fidyah. Tetapi jika karena mengkhawatirkan dirinya dan anaknya, maka ia hanya wajib mengqadla’ saja tanpa membayar fidyah.
2. Ketentuan mengqadla’ tanpa membayar fidyah
Ketentuan ini berlaku bagi orang muslim yang sedang dalam perjalanan dan bagi orang sakit. Ketentuan ini tertera dalam surat al-baqarah ayat 184:
فمن كلن منكم مريضا او على سفر فعدة من أيام اخر
Ketentuan ini jga berlaku bagi perempuan yang sedang haidh atau nifas.
رواه البخاري ومسلم عن عائشة قالت: كنا نحيض عهد رسول الله ص.م. فنؤمر بقضإ الصوم ولا نؤمر بقضإ الصلاة (رواه البخاري ومسلم)

E. Hal-hal yang membatalkan puasa serta berlakunya qadla’ dan qadla’ beserta kifarat.
Hal-hal yang membatalkan puasa sebagian besar telah disepakati oleh para ulama’ yang diantaranya adalah: makan-minum dengan sengaja, Istimna’ (Bercumbu), Jima’, dan lain-lain.
1. Berlakunya ketentuan qadla’.
Batalnya puasa yang cukup diganti dengan qadla’ saja biasanya disebabkan oleh hal-hal yang telah dianggap membatalkan puasa tersebut. Seperti apa yang telah disepakati oleh ulama’.
2. Berlakunya ketentuan qadla’ dan membayar kifarat.
Batalnya puasa yang harus diganti dengan qadla’ dan harus membayar kifarat adalah jima’ pada siang hari Ramadlan.

KESIMPULAN

Puasa ramadlan merupakan salah satu rukun islam yang harus kita laksanakan sesuai dengan syarat-syaratnya. Karena jika tidak, maka puasa kita tidak sempurna.
Jika tidak dalam keadaan-keadaan tertentu, misalnya dalam keadaan bepergian, setiap orang islam diwajibkan melaksanakannya. Adanya rukhsah (keringanan) yang diberikan adalah karena adanya hal-hal tertentu (‘illah) yang menghalangi kita untuk melakukan puasa.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Quran dan Terjemahannya, Depag RI, PT. Intermasa, 1986.
2. Ibn Muhammad al-Jurjany, Al-Ta’rifat, Beirut: Dar al-Kitab al-Alamiyah,1977.
3. Al-Jarjawy, Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, Beirut: dar al-Fikr, 1997.
4. Hasbi ash-Shiddieqy, Kuliah Ibadah, Jakarta: Bulan Bintang, 1954

3 Komentar

  1. dildaar80 berkata,

    Januari 5, 2010 pada 8:26 am

    asw…salam kenal..

  2. rico hazeru berkata,

    November 3, 2011 pada 7:28 pm

    very good kompit,


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.