BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah.
Perubahan adalah syarat mutlak bagi berkembangnya sebuah masyarakat. Sebagaimana telah dikemukakan oleh Auguste Comte, perubhan adalah syarat mutlak bagi kemajuan yang dialami manusia. Karena, manusia yang tidak berubah berarti manusia yang statis, tidak berkebudayaan, dan yang lainnya. Dan tentunya, perubahan ini dikarenakan adanya interaksi manusia satu dengan yang lainnya.
Tetapi, sekarang kita hanya menengok kepada kejadian-kejadian yang muncul ditengah-tengah masyarakat tanpa mengetahui akan pola-pola perubahan yang menjadi factor utama terjadinya kejadian tersebut.
Dalam makalah ini, penulis akan menglas kembali tentang pola perubahan , pembagiannya, sekaligus teori-teori modern mengenai perubahan social.
B. Rumusan Masalah.
Dari latar belakang diatas, dapat ditarik beberapa rumusan masalah berikut. Antara lain:
1. apakah pola-pola perubahan tersebut dapat mempengaruhi faktor utama terjadinya perubahan?
2. Seperti apakah bentuk pola perubahan yang sebenarnya?
C. Tujuan Penulisan.
Beranjak dari ketertarikan kami untuk mengkaji kembali pola perubahan yang terjadi ditanah air ini, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Meninjau kembali bentuk-bentuk perubahan.
2. Mengkaji dan mengetahui pola perubahan dan teori-teori modern tentangnya.
D. Metode Penelitian.
Mengenai sistem penulisan lebih banyak menggunakan analisa pustaka. Sedangkan dalam metode penelitian di dalam tulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Jenis penelitian
Metode penelitian yang penulis lakukan dalam tulisan ini adalah penelitian pustaka (Iibrary Research).
2) Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data disini kami melakukan proses pengumpulan data primer dan sekunder yang erat kaitannya dengan topik yang dibahas, baik dari buku-buku tentang ilmu sosial dan budaya maupun literatur-literatur lainnya yang berhubungan dan mendukung guna melengkapi keperluan penelitian.
E. Sistematika Pembahasan.
Rancangan penulisan dimulai dengan BAB I yang berisikan Pendahuluan yang mengantarkan pembaca menuju keterangan pembahasan melalui penjelasan latar belakang masalah, rumusannya serta tujuan dimunculkannya penulisan. Kemudian disusul dengan BAB II yang menjelaskan tentang pola-pola perubahan. Dalam BAB III, teori-teori modern mengenai perubahan sosial yang menjadi bahasan dan gagasan utama dalam tulisan ini. Dan akhirmya diakhiri dalam BAB IV yang berisikan kesimpulan dan penutup serta saran-saran dari penulis.
BAB II
POLA-POLA PERUBAHAN SOSIAL
A. Pola Linear.
Pemikiran pertama mengenai pola perkembangan linear dapat kita temukan dalam buku karya Auguste Comte yang berjudul Etzioni-Halevy. Menurutnya, kemajuan progresif peradaban manusia mengikuti suatu jalan yang alami, pasti, sama, dan tak terelakkan. Dalam teorinya, comte mengemukakan adanya tiga tahap yang dilalui peradaban.
Tahap pertama (teologis dan militer), comte melihat bahwa semua hubungan social senantiasa bertujuan untuk menundukkan komunitas lain. Semua konsepsi teoritik dilandaskan pada pemikiran mengenai kekuatan adikodrati. Pengamatan dituntun oleh imajinai seseoreang. Saat itu, hasil penelitian tidak dibenarkan.
Tahap kedua (metafisik dan yuridis), merupakan tahap yang menjembatani masyarakat militer dengan masyarakat Industri. Pengamatan masih dilakukan melalui imajinasi, namun kekuatan adikodrati diganti dengan sesuatu yang abstrak.
Pada tahap ketiga (tahp positif), industri mendominasi hubungan social dan produksi telah menjadi tujuan utama masyarakat. Imajinasi telah telah tergeser oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman ini, orang berusaha mendapatkan hokum atau teori-teori berdasarkan fakta-fakta yang kemudian dinalar dengan akalnya.
Dari beberapa teori Comte diatas, perubahan yang pasti, sama, dan tak terelakkan merupakan perubahan social yang unilinear.
B. Pola Siklus.
Menurut Oswald Spengler, masyarakat berkembang laksana roda yang berputar, salah satu sisinya kadang berada diatas, terkadang juga dibawah. Tak ada sisi yang selamanya diatas, dan tak ada sisi yang selamanya dibawah.
Ada juga yang mengibaratkan perubahan social laksana air laut yang pasang surut. Begitu juga kebudayaan yang tumbuh, berkembang dan pudar laksana perjalanan gelombang air laut, yang terkadang muncul secara tiba-tiba, berkembang dan kemudian lenyap tanpa sisa. Ada juga yang mengibaratkannya dengan tahap perkembangan seorang manusia. Mereka melewati masa kanak-kanak, muda, dewasa, tua dan akhirnya punah.
Sepertihalnya kebudayaan-kebudayaan yang kini telah punah, seperti kebudayaan Yunani, Romawi dan mesir.dan menurut spengler, kebudayaan-kebudayan barat juga akan mengalami hal serupa pada nantinya.
Vilfredo Pareto, membagi masyarakat dengan dua tingkatan atau lapisan, kaum elite dan nonelite. Elite yang terdiri dari kaum aristokret masih terbagi menjadi dua bagian lagi, elite yang berkuasa dan elite yang tidak berkuasa.
C. Pola Gabungan.
Ada juga beberapa tokoh yang menggabungkan antara pole linear dan pola siklus. Karl marx salah satunya, ia berpendapat bahwasanya sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan terus-menerus antara kelas-kelas yang dalam masyarakat yang sebenarnya mengandung benih pandangan siklus karena setelah satu kelas berhasil menguasai yang lainnya, teori tersebut akan terulang kembali.
Namun, kita juga dapat menemukan teori karl Marx yang bersifat linear. Ia berpendapat bahwasanya perkembangan kapitalisme akan memicu konflik antara kaum buruh dan kaum borjuis yang akan dimenangkan kaum buruh yang kemudian akan membentuk masyarakat komunis.
PERUBAHAN SOSIAL
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah:
ISBD
Dosen Pengampu:
Oleh:
Abdul Ghani: 05410135/PAI.5
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2005