MEMBONGKAR AKSI ANARKISME DALAM ISLAM.
“Bentuklah Barisan Yang Teratur Seperti Suatu Bangunan Yang Kokoh”
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwasanya penduduk yang tinggal di muka bumi adalah majemuk, berjuta-juta suku tinggal diatasnya. Satu bangsa Indonesia bisa memiliki berbagai macam suku, bahasa, agama, adat-budaya dan sebagainya.
Ironisnya, Perbedaan tersebut terkadang dijadikan sebagai landasan untu membenci, menguasai, dan mendiskreditkan yang lain, padahal, kita bisa untuk saling mempelajari agama, budaya, tradisi dan bahasa orang lain untuk membangun dan mempererat harmonisasi hubungan antara satu dan yang lain.
Beberapa tragedi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini; maupun tragedi Bom Bali dan JW. Marriot, sangat meresahkan bangsa Indonesia. Kekerasan yang berlabelkan agama tersebut telah menodai agama reputasi Islam dimata umum. Stigmatisasi bahwasanya agama Islam adalah agama teroris, agama penuh kekerasan adalah stigma yang dibangun oleh beberapa oknum yang menginginkan perpecahan dalam tubuh bangsa Indonesia.
“Islam Agama Kekerasan”. Jargon tersebut bukan hanya isapan jempol belaka, dibuktikan dengan betapa sadisnya aksi anarkisme yang dilakukan oleh orang yang mengklaim dirinya beragama Islam. Stigma tersebut memang sudah berakar bagi sebagian orang, mereka telah menstempel agama Islam dengan stempel Hitam dan namanya telah tertulis dalam Blacklist yang patut dicurigai. Akan tetapi benarkah agama yang mereka anut mengajarkan hal demikian? Bukankah agama Islam diturunkan oleh Yang Maha Pengasih lagi Penyayang dan disampaikan seorang Muhammad yang sopan dan santun?
“Bismillah ar-Rahman ar-Rahim”
Kata itu selalu kita lantunkan saat seorang muslim akan melakukan aktivitas apapun, terlebih lagi sebelum kita membaca kitab suci al-Qur’an. Ayat tersebut memiliki arti: dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ayat tersebut menunjukkan bahwasanya Allah yang disembah seorang muslim memiliki sifat ar-Rahman dan ar-Rahim yang berarti Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Agama Islam, seperti halnya agama yang lain, juga mengajarkan norma-norma moral dan kemanusiaan. Bagaimana mungkin agama yang dibawa oleh Nabi yang paling halus namun tegas dalam berkata melakukan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai tindakan anarkisme yang merugikan orang lain?.
“dan kita diperbolehkan perang kalau kita diperangi”
Dalam al-Qur’an terdapat 66 ayat yang memuat kata-kata Jihad dan hanya 3 ayat yang mengandung makna perang yang sebenarnya. Perang tersebut diperbolehkan jika kita dianiaya orang lain, atau terlebih dahulu diperangi.
“hai orang-orang yang beriman, taatlah engkau sekalian kepada Allah, utusan-Nya, dan pemimpin diantara kamu sekalian”.
Agama Islam juga mengajarkan kita untuk mentaati ulil Amri (pemimpin).
Untuk konteks saat ini, kita mungkin akan kesulitan untuk mencari sosok pemimpin yang benar-benar bisa menjadi seorang ulil-Amri bagi kita. Akan tetapi, yang dimaksud ulil-Amri bukan hanya manusia saja, dia bukanlah orang yang menduduki posisi paling tinggi, ulil-Amri bukanlah Gus Dur, bukan Amin Rais, bukan Susilo Bambang Yudhoyono ataupun yang lainnya. Ulil-Amri adalah peraturan yang dibuat untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia, semua peraturan yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan dan kesejahteraan rakyatnya adalah ulil-Amri bagi kita semua. Jadi, agama Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melanggar norma serta aturan yang bertujuan untuk kesejahteraan bersama.
Masih banyak lagi ajaran Islam yang menunjukkan bahwasanya agama Islam adalah agama yang lemah lembut anti anarkisme. Kita patut menyesalkan jika kemudian ada beberapa orang atau kelompok yang melakukan tidakan tersebut dengan mengatasnamakan Islam.
Singkatnya, agama Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan tidakan kekerasan yang dapat merugikan orang lain. Jika memang ada orang beragama Islam yang melakukan tindakan tersebut, berarti dia masih belum menjalankan ajaran Islam secara kaffah.
Wallahu A’lam
“Keragaman itu bukan sekedar sesuatu yang indah apabila terbangun secara harmonis, tetapi sekaligus merupakan amanat-Nya untuk diwujudkan” (KH. Abdul Muhaimin).
Penulis:
Abdul Ghani
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta